Monday, June 30, 2014

Baju tunik India

Minggu lalu saya ke Bandung untuk satu keperluan dan kemudian jalan-jalan ke Factory Outlet mereka. Saya menemukan baju tunik India yang murah tapi bagus. Harganya cuma Rp 50.000,-. Dibandingkan dengan baju-baju lain yang ada di FO tersebut, harganya murah sekali, jadi pasti ada apa-apanya. Ternyata benar, jahitannya kasar, tidak diobras dan jahitan di lengker lehernya dijahit tidak rapi, sehingga sangat mengganggu pemandangan. 

Tapi saya beli juga, karena kelihatannya bahannya bagus dan tidak luntur. Sewaktu ke India tahun 2010, saya membeli sejumlah baju tunik India yang keren-kerean, tetapi semuanya luntur, bahkan oleh cuma keringat saja. Saya beli ukuran 40. Cukup tercengang, karena tahun 2010 ukuran baju saya adalah 38. 



Salah satu hal yang unik dari bahan kain produksi India adalah bahan baju tersebut memiliki lingkar leher yang berbordir. Termasuk baju yang saya beli di Bandung minggu lalu. Karena dijahitnya kasar, lapisan dalamnya menyembul keluar, jadi bagian itu saya bongkar dan saya jahit ulang. Meski sudah diberi jarum pentul, bahkan dijahit jelujur, lapisan dalamnya tetap muncul keluar, tetapi jauh berkurang dibanding dengan sewaktu dibeli. Memang sulit menjahit bagian yang melengkung seperti kerah leher seperti ini. Oh ya, untuk membuka leher tersebut, saya membukanya dari leher. 



Ketika mencoba baju tersebut, kerahnya terlalu rendah buat saya. jadi saya harus memperbesar kerung leher tersebut. Saya memperbesar dengan menurunkan 2 cm dari pundak. Karena depan diturunkan, maka bagian belakang juga diturunkan agar ukuran bajunya sama. 



Cacat kedua dari baju ini adalah bahwa ukuran bahu kanan dan kiri ternyata berbeda 1 cm di bagian pundak. Pantas saja saya tidak nyaman ketika mencobanya. Sepertinya ada yang melorot, ternyata memang beda 1 cm. 



Nah, karena bahu diturunkan, maka posisi kerung lengan pun harus saya turunkan, agar semuanya pas. Tapi saya belum mengerjakan semuanya, karena keterbatasan waktu. Setiap pagi, saya membongkar satu bagian. Nanti kalau jadi, saya posting di sini. 


Perhatian:
Dilarang meng-copy paste artikel ini meskipun mencantumkan sumbernya. Saya akan melaporkannya ke Google, dan Google akan mem-banned web atau blog anda yang memuat artikel saya yang manapun. 



    

Sunday, August 25, 2013

Baju tradisional Pakistan

Bulan Mei 2013 lalu, saya mendapat tugas ke Pakistan untuk memantau pemilu parlemen Pakistan. Seperti biasa, sebelum berangkat saya browsing dulu pakaian yang biasa digunakan di sebuah negara, supaya tidak "saltum" alias salah kostum. Maklum, penugasan di negara-negara yang mayoritas Islam memiliki kekhususan tersendiri untuk pakaian untuk pemantau pemilu yang perempuan. Kalau pemantau yang laki-laki gak repot, asal jangan pakai T-shirt dan celana pendek, aman. 

Akhirnya didapatlah nama "shalwar kameez" atau "shilwar kameez". Cantik-cantik, tapi saya tidak suka, karena baju yang ditampilkan baju yang feminin banget dan fancy. Saya kan di sana untuk bekerja dan pasti ke sana kemari termasuk akan wawancara orang di jalanan, jadi tidak mungkin saya memakai baju yang fancy. Jadi saya memutuskan untuk membelinya ketika sudah berada di Pakistan saja. Saya membawa beberapa baju yang panjangnya selutut dan berlengan panjang. 

Penugasan saya di Lahore, provinsi Punjab. Sebenarnya saya yang minta pada panitia (the Core Team) karena saya dengar kota Lahore cantik sekali. Acara cukup padat sehingga saya belum sempat melihat-lihat shilwar kameez apalagi membelinya. Suatu hari di hotel saya lihat ada bazaar, wah langsung masuk dong, karena baju yang dipajang keren-keren. Tapiiii, hotel saya adalah hotel bintang lima, jadi pasti mahal. Hati bimbang antara keinginan memiliki shilwar kameez dan harga yang mahal. Kebetulan ada undangan pesta dari Konsulat Jenderal AS di Lahore, jadi kayaknya harus membeli deh. Tutup mata aja deh dengan harga yang mahal. Nah, ini dia baju yang saya beli dan pakai untuk menghadiri pesta tersebut. Cantik kan.

Miss Indonesia dan miss Pakistan sebelum menghadiri pesta di Konjen AS di Lahore, Pakistan.
Lokasi: Hotel Pearl Intercontinental, Lahore, Pakistan. May 2013
Ada teman Indonesia yang bertanya, kenapa saya tidak menggunakan batik atau tenunan Indonesia. Ya, seperti saya sebutkan di awal, saya tidak tahu apa itu shilwar kameez dan di mana membelinya di Jakarta. Shilwar kameez adalah blus panjang dengan belahan mulai dari pinggul. Jadi di Indonesia sebenarnya ada juga baju seperti ini, hanya biasanya blusnya sepanjang paha atau sekedar menutupi pinggul saja. Kata kameez mirip dengan kata gamis yang umum orang Indonesia gunakan. 

Shilwar kameez yang saya gunakan berbahan katun, bahan favorit saya. Hiasan di bagian dada merupakan tenunan Sindh, salah satu daerah sekaligus tribe (suku) di Pakistan dan Afghanistan. Ketika saya memakainya, banyak orang Pakistan yang menoleh dan senyum-senyum. Oh ya, warna coklat dan krem merupakan warna favorit saya. Jadi pilihan pada baju ini merupakan cinta pada pandangan pertama, he he he. Begitu lihat, tidak mau berpaling. Harganya hampir 3000 rupee (kalau gak salah) setara dengan Rp 300 ribu. Harga tersebut sekaligus untuk menjahit blus. Saya tidak mau menjahit celana panjang pasangan shilwar kameez tersebut, karena pertama, saya tidak suka memakai celana bahan, saya lebih suka memakai jeans atau jika celana bahan saya punya merek favorit tersendiri. Kedua, model celana panjang di sana gak oke.  

Baju ini saya beli dalam bentuk bahan, jadi saya menjahitnya di sana. Si auntie yang berjualan bahan ini, berjanji akan menyelesaikannya dalam dua hari. Dan taraaaa, bajunya selesai seperti yang dijanjikan, tanpa mengukur badan saya pula. Saya hanya mencoba satu baju di standnya, yang berukuran M dan pas dengan saya, seolah bajunya dibuat khusus untuk saya, ha ha ha. Sebelum pergi ke Konjen AS, saya ke standnya, dan menunjukkan betapa pas baju tersebut dengan saya. Pedagang yang lain juga memuji, si auntie yang pas banget menjahitnya dan saya yang pas banget memakainya. Bukannya memuji diri sendiri, tapi banyak bule yang bertugas di pemilu Pakistan kemarin, membeli juga shilwar kameez meski hanya blusnya saja, tapi ketika dipakai, gak pas dilihatnya. Bukan tidak pas di ukurannya, tapi gak pas saja dilihatnya. 

Beberapa hari kemudian, tekanan kerja agak berkurang sehingga kami punya waktu untuk mencari kebutuhan kami. Saya berniat memakai shilwar kameez saat hari pemungutan suara, dan penerjemah saya mebutuhkan sepatu yang nyaman untuk hari itu.  Kami ke sebuah kompleks perbelanjaan yang cukup besar seperti daerah Blok M, tapi tempatnya lengang dan bersih sekali. Satu persatu toko kami masuki akhirnya saya menemukan shilwar kameez ini. Cantik juga, kan.

Di The Monal Restaurant saat farewell lunch. Restoran terletak di atas bukit yang mengeliling Islamabad.
Saya suka warna putih, karena membuat saya pede. Saya perlu warna merah karena membuat saya cerah dan semangat tentunya. Pagi hari pemungutan suara begitu dari keluar dari kamar hotel, tamu dan pegawai hotel mengatakan, "Ma'am, you look like Pakistani woman." Jelas, senang banget dong. Penerjemah saya bilang, ketika saya mencoba baju ini di toko, "you look smart with this shilwar kameez". ho ho ho, belum tau dia, kalau saya smart beneran (gak ada yang muji, jadi muji sendiri lah)

Yang menarik dari shilwar kameez adalah orang Pakistan sangat pintar memadukan warna antara blus, celana panjang dengan selendangnya. Selendangnya disebut dengan dupatta. Semua shilwar kameez yang dipajang di hampir semua toko di sana begitu serasi warnanya. Hanya harganya yang gak murah, iyalah, bajunya bermeter-meter termasuk dupattanya.

Pola shilwar kameez sedang saya buat. Karena banyak banget laporan yang mesti saya buat.... 

         

Tuesday, March 5, 2013

Membuat baju sackdress

Kali ini kita membuat baju yang lebih "serius". 

Serius? Jadi selama ini gak serius ya? He he he, kemarin-kemarin saya kasih tau buat pola baju dengan cara yang mudah-mudah saja, yaitu dengan menjiplak baju yang sudah ada. Jadi gak perlu pakai pola yang aneh-aneh. 

Maksud saya, karena pola itu ada macam-macam jenisnya. Ada pola Jepang, pola Amerika, pola Eropa dan seterusnya. Apalagi kemudian ada pola yang dinamakan sesuai dengan desainer atau penemu pola tersebut. 

Saya suka dan maunya pola yang sederhana saja, karena saya bukan profesional di bidang jahit menjahit dan tidak pernah kursus serius, selain iseng-iseng saja karena ada mesin jahit menganggur di rumah. 

Beres-beres tumpukan dokumen di rumah, saya menemukan majalah jadul banget, majalah tahun 70-an yang saya beli jaman saya kuliah tahun 90-an. Jadi majalah itu sudah berumur hampir 40 tahun ya. Sudah kuning dan agak lembab. Tapi model yang saya suka, lagi-lagi model yang sederhana yaitu model sackdress, ada di majalah ini. 

Sackdress adalah model baju yang diminati di tahun 60 dan 70-an, begitu simpel dan sederhana tapi sekaligus feminin dan elegan, karena saat itu dunia baru bangkit dari kepedihan Perang Dunia kedua. 

Di Indonesia, sackdress sebenarnya sama populer dengan sebutan daster, cuma daster dibuat dari bahan yang tipis dan nyaman, jadi cocok untuk di rumah atau untuk tidur. 

Kalau sackdress dibuat dari macam-macam bahan sehingga bisa juga dipakai untuk keluar rumah. dan sekarang sackdress kembali "in" kembali populer kembali di abad 21 ini (taelaaa).  


Saya mau bikin baju ini, karena saya sering menghadiri acara  dengan lembaga pemerintah atau LSM. Kalau memakai blus batik terus, kayaknya bosan juga. Sekali-sekali ingin tampil feminin dan tentu saja tampil beda. 

Polanya sederhana dan mudah dibuat. Tetapi tunggu dulu ya. Pola yang ada di samping ini merupakan pola yang sudah dimodifikasi. 

Jadi seharusnya ada pola dasar sesuai dengan badan kita masing-masing. Namun, berhubung kesibukan saya, lah, kok yang pertama saya selesaikan justru bagian ini. 

Pola dasarnya nanti disusul ya. Untuk sekarang, silahkan menikmati dan membayangkan dulu pola dan model baju sackdress ini.

Saya sudah buat pola sackdress sesuai dengan petunjuk dari majalah ini, tetapi sepertinya tidak pas dengan ukuran badan saya. Gak ngerti kenapa. Lubang lengannya terlalu kecil untuk lengan saya. Jadi kayaknya saya mesti modifikasi lagi. 

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat sackdress ini adalah 2.3 yards, setara dengan 2,5 meter dengan lebar 36 inci atau setara dengan 1,5 meter. 

Sleeve Length = Panjang lengan baju
Zipper Closing = Batas restleting
Fold = batas lipatan
Front = sisi bagian depan
Back = sisi bagian belakang
same as the basic pattern = sama dengan pola dasar
except the neck opening = kecuali bagian bukaan leher

Monday, March 4, 2013

Pola Baju Kedah

Baju Kedah yang berasal dari negara bagian Kedah, Malaysia memiliki pola yang sederhana. Sehingga untuk pemula atau orang yang iseng-iseng menjahit, bolehlah. 

Baju Kedah comes from Kedah, Malaysia. It has a very simple pattern. So, it is good for beginner in sewing field.

Meski pada perkembangannya di Malaysia, baju Kedah yang semula baju sehari-hari kemudian dimodifikasi sehingga bisa terkesan mewah. Hampir sama dengan perkembangan kebaya di Indonesia. Dari baju kebaya harian, begitu ganti bahan wah, jadi mewah banget.

Baju Kedah originally is daily wear and then is modified and can have glamour look, according to the stuff people use. It is almost similar like Kebaya from Indonesia. From daily wear Kebaya, when the designer change the stuff from cotton into lacy or silk with fine embroidery, Kebaya then has glamorous look.        

Kali ini saya membuat pola baju Kedah dari baju Kedah yang saya beli di Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu. Ukuran pola ini adalah S atau kecil. Dan pas betul dengan badan saya. Padahal, kalau baju Indonesia yang saya beli, ukuran baju saya biasanya adalah L. Jadi nanti perhatikan ukuran badan masing-masing ya, kalau mau membuatnya dengan kain.

This time I would like to make a pattern of Baju Kedah that I bought in Kuala Lumpur a couple months ago. This size of this pattern is S (Small), although my clothes size in Indonesia is usually L. So, if you want to make pattern, please pay attention with your own measurement.

Pola Baju Kedah. Pattern of Baju Kedah.
   
Nah, polanya sederhana bukan? Ukuran dibuat dengan centimeter. Well, the pattern is very simple and easy, right?

Lebar badan 27 cm, badan atas dan badan bawah sama saja lebarnya.

Panjang blus 56 cm yang dibagi dua, 20 cm untuk lubang lengan, sisanya 36 cm. Baju Kedah ini panjangnya hanya menutup setengah pinggul, jadi bisa dipanjangkan jika suka.

Panjang blus sebelah kiri bagian depan turun 10 cm untuk lubang leher. Sedangkan di bagian lebar badan, sisakan 7 cm untuk lubang leher bagian atas. Buat lengkungan. Di bawah lengkungan leher, ada garis putus-putus sepanjang 10,5 cm yang merupakan bukaan bagian depan dan bisa dikancingkan. Oh ya, lengkungan bergaris biru adalah untuk bagian belakang blus.  

Pola leher bagian depan saya ubah, karena leher baju Kedah yang asli tersebut terlalu sempit dan mencekik leher saya, sehingga ketika dipakai, kancing yang ada tidak saya kancingkan. Bukaan tersebut juga terlalu lebar ke bawah. Karena saya memakai tank top, jadi menutup bagian yang tidak patut terlihat. 

Yang saya lakukan pada pola ini adalah, kerung leher bagian atas saya mundurkan 1 cm, bagian bawah saya mundurkan 2 cm, dan tidak ada bukaan di depan. Saya mencoba dan mengubah pola beberapa kali, hingga saya tidak kesulitan memasukkan blus ke leher saya tetapi sekaligus leher blus juga tidak terlalu rendah.

Baju Kedah
Panjang lengan 26 cm, sedangkan lebarnya 20 cm. 

Menjahitnya juga gampang. Setelah semua bahan dipotong sesuai dengan pola, tinggal jahit lurus saja, lalu diobras bagian dalamnya.

It is also easy to sew it, because the line is very simple and quick.

Selamat mencoba yaaa. Happy sewing!!

Sunday, March 3, 2013

Baju Kedah

Ketika ke Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu, iseng-iseng masuk ke Mydin, sebuah kedai borong alias toko obral yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat menginap. 

Sebenarnya kalau di Kuala Lumpur atau Malaysia, saya malas lihat-lihat baju karena kebanyakan bajunya dari Indonesia juga, tapi saya sedang ingin buang waktu sambil menunggu janji bertemu dengan seorang teman, jadi bolehlah lihat-lihat. Siapa tau ada yang menarik. Ternyata saya menemukan baju kedah ini. 

Baju Kedah


Saya pikir baju kedah adalah baju dari negara bagian Kedah. Jadi saya mau tau, seperti apa baju kedah itu, apakah berbeda dengan baju kurung. Tapi lihat potongan bajunya kok, sederhana banget mirip baju tidur untuk perempuan. Tapi saya tertarik melihat polanya yang serba lurus, jadi betul ini baju yang saya cari. 

Saya coba, pas banget di badan. Saya juga suka motifnya yang bunga-bunga kecil jadi kesannya feminin. Pilih-pilih akhirnya dapatlah 3 warna. Ha ha ha, dari iseng akhirnya ikut ngeborong juga. Iya, karena kalau beli 3 harganya jadi lebih murah, namanya juga belanja di kedai borong. Harga baju kedah ini jadinya RM 5 atau Rp 15 ribu per helainya. Cukup murah atau kata orang Malaysia, murah sangat. Tapi memang sesuai, karena bahannya tipis sekali, jadi kalau mau pakai mesti pakai lapisan atau tank top. 

Ketika membayar, saya tanya ke kasirnya, yang sepertinya orang Indonesia, apa baju kedah itu, apakah baju dari negeri Kedah atau baju tidur. Maklum deh, kosakata Indonesia dengan Melayu meski mirip tapi banyak bedanya juga. Dia bilang, itu baju untuk orang tua. Wah, masa iya sih. Melihat raut muka saya yang agak-agak kaget, dia membetulkan, ya sekarang juga banyak sih anak muda yang pakai. Yah okelah kalau begitu....

Sampai di hotel, baju kedah ini saya bentangkan untuk memastikan polanya. Polanya serba lurus dan kotak, menunjukkan ciri-ciri baju dari jaman kuno. Baju dengan pola sederhana dan sejenis ini adalah kebaya (Indonesia), abaya (Timur Tengah), kimono (Jepang) dan beberapa negara lainnya. Sangat sederhana. Dan saya suka dengan pola baju sederhana. 

Lengan baju kedah ini tidak panjang dan tidak juga pendek, 3/4 lengan. Gunanya agar pemakai mudah bekerja, karena awalnya baju kedah ini digunakan untuk wanita yang sudah menikah. Kalau sudah ibu-ibu kan pekerjaannya banyak, daripada harus menggulung baju, kan repot, jadi sekalian saja lengannya cukup tiga perempat lengan. Namun, dengan bahan setipis dan lembut itu, jatuh dan kesannya baju kedah ini jadinya feminin. 

Saya sudah jiplak baju kedah ini untuk membuat polanya, jadi nanti saya akan upload di sini. Saya juga sudah membuat sebuah baju yang dibuat dari pola baju kedah ini, tapi bahan yang saya gunakan bermotif batik.    

Saturday, July 14, 2012

Menjelujur


Menjelujur adalah salah satu teknik menjahit dengan tangan. Ada beberapa teknik menjahit dengan tangan yang akan dibahas pada postingan-postingan yang lain.
Hasil jahitan jelujur, menggunakan benang warna merah. 

Menjahit jelujur adalah menjahit dengan jarak yang cukup besar. Gunanya untuk menyatukan bahan yang sudah digunting sesuai pola. Biasanya digunakan untuk fitting (pengepasan) sementara.

Yang digunakan adalah jarum jahit dan benang. Menjelujur bisa dilakukan oleh pemula. Bahkan bagi pemula ada baiknya belajar menjelujur terlebih dahulu.

Cara menjelujur :
  1. Siapkan benang dan jarum. Gunakan jarum yang sedang-sedang saja dan disesuaikan dengan jenis bahan yang ada.Jangan gunakan jarum yang terlalu kecil. Nanti benangnya tidak muat. Jangan menggunakan jarum yang terlalu besar, nanti bahannya rusak.
  2. Lebih bagus kalau belajarnya dengan menggunakan bahan kotak-kotak, bergaris atau kalau bahan polos, digarisi terlebih dahulu. 
  3. Masukkan benang ke dalam jarum, lalu ujungnya disimpulkan. (Supaya tertahan dan gak lolos).
  4. Mulai menjahit, ya. Jarak antara satu titik ke titik lain, boleh besar-besar tapi jangan terlalu besar ya. Kalau baru belajar menjahit, pasti jelujurannya mencong mencong, gak lurus. gak apa-apa, namanya juga belajar. 


Selamat berlatih.

Wednesday, July 11, 2012

Jarum Jahit


Jarum jahit ada macam-macam ukurannya. Ada yang pendek, ada juga yang panjang. Ada juga batang jarum yang halus ada juga yang tebal batangnya. Jarum yang halus biasanya untuk menyulam payet, jarum yang agak tebal biasanya untuk bahan yang tebal. Jarum yang standar digunakan untuk bahan standar seperti katun atau baju yang kita pakai sehari-hari.

Saya biasanya lebih suka membeli jarum dengan packing seperti ini. Karena terdapat beberapa jenis jarum yang bisa kita gunakan untuk beberapa jenis bahan, tergantung keperluan kita.



Cara mengeluarkan jarum adalah dengan memutar bagian yang putih tersebut pelan-pelan. Di bagian bawah atau tengahnya terdapat lubang atau semacam pintu supaya jarum bisa keluar. Kalau sudah mengeluarkan sebuah jarum yang dibutuhkan, tutup lagi. Supaya jarum yang tidak diperlukan tidak berceceran. Pelan-pelan saja membuka dan menutupnya, khawatir pecah.

Ada juga dijual jarum yang sejenis dan seukuran dalam satu bungkusan. Kalau kita memang sering menggunakan jarum dengan ukuran tertentu, lebih baik membeli paket jarum jahit seperti itu.    


Ingin punya bisnis sendiri? Ingin punya penghasilan tambahan? Yang satu ini bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana pun saja!

 
Belajar berbisnis bersama d’BC Network!
Jaringan independent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!

Cara memasang benang ke dalam jarum



Menjahit tangan tetap diperlukan lho, semisal untuk menjahit kancing atau mengesom. Meski mudah dan basic, tapi ternyata banyak orang sekarang yang tidak bisa menggunakan jarum dan benang, apalagi menjahitnya. Kenapa? Karena enggak biasa. Padahal mudah banget dan sekali lagi, ini ilmu dasar menjahit.



Sudah punya jarum dan benang? Yuk, ikuti langkah-langkah ini. Jarum dipegang oleh tangan kiri, benang ditangan kanan. 


Pastikan benang dipotong dengan gunting, supaya tidak ada benang sisa, karena akan menyulitkan benang masuk ke dalam jarum. 


Potong benang sesuai kebutuhan. Jangan panjang-panjang karena akan membuat benang cepat kusut dan cepat tipis sehingga cepat putus. Untuk mengikat benang, letakkan benang di atas benang yang lain, lalu buat simpul.


Tuesday, July 10, 2012

Menjahit bahan tipis


Punya bahan yang tipis misalnya selendang? Kalau jarang pakai selendang, alih fungsikan saja jadi baju. Karena gak asyik juga yah, pakai baju tembus pandang. Tapi kalau pede yah, gak apa-apa.

Kalau saya sih gak pede, karena saya kebanyakan keluar masuk ke kantor pemerintah atau ikut seminar, jadi gak pantas yah pakai baju tembus pandang, walau sudah pakai tank top.

Di Bangkok, Thailand, rata-rata bajunya tembus pandang. Para wanita di sana melapisinya dengan tank top di bagian dalam. Makanya, kalau lagi ke Bangkok dan shopping baju, besoknya di Jakarta, saya mesti beli tank top atau kaos ketat, supaya baju tersebut bisa dipakai di Jakarta.



Kali ini bikin baju dengan bahan selendang yuk. Daripada cuma ditumpuk saja di lemari. Prinsip menjahitnya sebenarnya sama dengan menjahit baju dengan bahan biasa. Kali ini saya akan melapisinya dengan bahan hero. Sebenarnya ada beberapa jenis bahan pelapis atau voering. Orang-orang menyebutnya ‚puring‘. 

Saya pilih bahan hero, karena lebih mirip katun, gak panas dipakainya. Pilih bahan hero yang mendekati warna bahan selendang tersebut. Dalam contoh bahan saya, ada dua warna, tapi saya pilih warna krem, daripada warna coklat tua. Soalnya lagi kepengen punya baju warna terang.


1. Kita mengerjakan bahan hero terlebih dahulu. Jika sudah punya pola, lipat bahan menjadi dua, bagian bagus di atas, bagian buruk ada di bawah atau di dalam lipatan.
2. Letakkan pola di atasnya. Atur supaya ada lebihan pada bahan kurang lebih 2 cm. Lebihan pada kain tersebut setelah dipotong, akan diobras. Obras biasnaya akan menghabiskan bahan ½ cm.
3. Kalau sudah pas, pola dan bahan disatukan dengan jarum pentul.
4. Ukur keliling 2 cm di sekeliling pola, beri tanda dengan    
   pensil, lalu guntinglah di garis pensil tersebut.
5.  Beri tanda di bahan dengan menggunakan karbon dan rader.
6.  Setelah bahan hero selesai dirader, lepaskan jarum pentul dari   
  bahan tersebut. Pola boleh dilipat atau digulung. Bahan heronya tidak dilipat karena akan dijadikan pola untuk bahan selendang.



Sekarang kita olah bahan selendangnya.
1.  Lipat dua bahan selendang. Bagian bagus di atas, bagian buruk di bagian lipatan.
2.  Letakkan bahan hero yang sudah digunting dan dirader tadi di atas bahan selendang. Atur supaya pas, tak usah dilebihkan.
3.  Jepit dengan jarum pentul.
4.  Gunting bahan selendang sesuai dengan bahan hero tadi.
5.  Kalau sudah selesai digunting, cabut jarum pentul.
6.  Bahan selendang tidak perlu dirader.
7.  Lipat sisa bahan dan simpan di tempatnya. kalau tempat kerjanya rapi, kan enak kerjanya.



Buka bahan hero, tumpukkan bahan selendang di atasnya. Perhatikan, mana bagian bagus dan mana bagian buruk. Setelah itu disemat dengan jarum pentul, lalu dijelujur di bagian pinggirnya.
Kerjanya memang jadi dobel yah, tapi gak apa-apa, hasilnya akan bagus kok.


Kalau sudah dijelujur, satukan bagian depan dan bagian belakang, seperti kita menjahit dengan bahan biasa. Jangan lupa diobras, yah, supaya bagian pinggirnya tidak kiwir-kiwir atau lepas.
Tara!! Anda sudah punya baju baru dari bahan selendang cantik yang selama ini tersimpan saja di lemari. 



Sunday, June 17, 2012

Menjalankan mesin jahit

Sebenarnya lucu juga ya menggunakan kata 'menggerakkan' atau ' menjalankan' mesin jahit. Tapi pokoknya, postingan ini akan menjelaskan bagaimana kita bisa menjalankan mesin jahit agar bisa menjahit sesuai dengan keinginan dan keperluan kita.
Nah, kalau teman-teman sudah memiliki mesin jahit seperti yang sudah saya ceritakan dalam postingan lain, kita bisa mulai menjahit. 

Alat untuk menggerakkan jarum jahit adalah alat seperti ini. Aduhh, saya kok lupa namanya. Nanti kalau ketemu namanya, saya edit postingan ini deh. Sorry ya friends.


Alat ini tersambung dengan dinamo yang ada di badan mesin jahit. Dan dinamonya sendiri terhubung ke listrik. Inilah yang menjalankan mesin jahit.

Letakkan kaki kita seperti ini. Latihannya jangan pakai listrik dulu, ya. Supaya tidak kaget, kalau jarumnya tiba-tiba jalan dengan kecepatan tinggi. Tekan kaki, tarik kaki, tekan, arik, sampai ketemu posisi yang nyaman dan pas untuk menjalankan jarum mesin jahit.  


Kalau sudah ketemu posisi yang enak. Colok kabel dinamo ke listrik. Tekan perlahan-lahan, sambil melihat gerakan jarum. 

Latihan terus ya. Postingan berikutnya adalah belajar menjahit dengan menggunakan mesin jahit . . . 



Ingin punya bisnis sendiri? Ingin punya penghasilan tambahan? Yang satu ini bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana pun saja!

 

Belajar berbisnis bersama d’BC Network!
Jaringan indenpendent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!

Thursday, May 31, 2012

Karbon dan rader

Salah satu eh salah dua perabotan untuk menjahit yang diperlukan adalah karbon dan rader. Karbon untuk menjahit beda lho dengan karbon untuk mengetik. Kalau karbon untuk mengetik warnanya hitam, dan sulit hilang. Tapi kalau karbon untuk menjahit warna-warni, cantik banget, dan mudah hilang jika dicuci. Tentu gak asyik kan, kalau baju sudah jadi tapi garis-garis yang bukan motif baju kelihatan, hi hi hi.



Warna-warni kertas karbon dan rader

Belinya dimana? Di toko peralatan menjahit yah, harganya kurang lebih Rp 1.500 atau Rp 2000-an per lembar. Kalau di pasar tradisional toko-toko seperti ini masih banyak, tapi di mall, hmmm agak sulit yah. Pilih warna yang paling kontras dengan bahan yang akan kita jahit, karena batas yang kontras akan memudahkan kita menjahit bahan yang sudah dipotong.

Rader digunakan untuk menandai batas pola di kain atau bahan yang akan kita jahit. Oh ya, rader adalah semacam tongkat sebesar spidol dengan roda kecil di ujungnya.  Roda dalam bahasa belanda disebut "Rad", jadi kira-kira begitulah, artinya supaya mudah mengingatnya yah.

Untuk menandai batas pola tersebut, caranya adalah sebagai berikut:

1. Lipat dua karbon dengan bagian lengket atau yang mengandung karbon di bagian luar. Tidak harus sama persis. Kalau saya justru membaginya dengan bagian yang lebih kecil dan bagian besar. Gunanya untuk menghemat karbon. 

2. Letakkan karbon dengan bagian yang lengket atau mengandung karbon di sela-sela bahan yang sudah kita potong. Pastikan kalau posisi karbon ada tepat di bawah kertas pola. Ya iyalah, kan pola tersebut adalah petunjuk kita.


Cara merader pola

3. Dorong rader perlahan-lahan menyusuri pola. Angkat bagian kain sedikit untuk memastikan bahwa ada cetakan rader di sana. Ulangi jika warna karbon kurang jelas, tapi hati-hati ya, kalau terlalu banyak jejak rader di sana dan tidak rapi, justru akan membingungkan kita saat memasang jarum pentul, bahkan ketika menjahit.


Dicek yaa, apakah jejak radernya sudah tercetak dengan jelas, karena ini jadi panduan kita ketika menjahit.

4. Kalau sudah selesai, cabut jarum pentul pada kertas pola. Lipat kertas pola dan simpan dengan rapi. Nah, kain sudah bisa masuk tahap berikutnya deh. 



Ingin punya bisnis sendiri? Ingin punya penghasilan tambahan? Yang satu ini bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana pun saja!

 

Belajar berbisnis bersama d’BC Network!
Jaringan indenpendent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!

Penulis adalah penghobi jahit menjahit, pernah kursus menjahit selama beberapa bulan, tapi gak lulus-lulus (gak bisa bagi waktu, he he he), jadi belajar otodidak saja deh.

Kalau mau bekerja di rumah, silahkan klik di sini.

Tuesday, November 15, 2011

Memasang Restleting di Sarung bantal

Sarung bantal yang kita beli di pasaran, kadang-kadang memiliki restleting dengan kualitas rendah. Baru sebentar dipakai, restletingnya sudah jebol, rusak tidak bisa digunakan lagi. Didiamkan, kok kayaknya bikin mata sepet yah. Dibuang, sayang, karena baru beli dan mungkin warna dan motif seprei dan sarung bantal tersebut merupakan favorit kita.

Yuk, kita ganti restleting tersebut. Siapkan restleting baru dengan ukuran yang kurang lebih sama dengan restleting dan sarung bantal.



Restleting dan jarum pentul

Pertama, buang restleting rusak tersebut dengan mendedelnya. Gunakan alat pendedel benang, bukan silet. Karena silet bisa merusak bahan, apalagi kalau kita tidak biasa menggunakannya. Bahkan bisa jadi melukai jari kita. 

Setelah restleting rusak tersebut dikeluarkan, pasang restleting baru. Jepit dengan jarum pentul di sekeliling restleting tersebut.

Jahit restleting dengan mesin jahit. Ketika menjahit, bukalah restleting, sehingga mudah menjahitnya. Nah selesai deh. Sarung bantal bisa digunakan lagi.


Ingin punya bisnis sendiri? Ingin punya penghasilan tambahan? Yang satu ini bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana pun saja!

 

Belajar berbisnis bersama d’BC Network!
Jaringan indenpendent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!

   

Wednesday, August 24, 2011

Mesin Jahit

Harusnya setelah selesai membuat pola kita masuk ke memotong bahan sesuai pola yang sudah kita buat. Tapi karena ada permintaan untuk mengenal dan menggunakan mesin jahit, ya sud, saya dahulukan postingan mengenai hal ini. 

Mesin jahit yang saya gunakan merknya Butterfly. Belinya di daerah Tanah Abang dengan harga Rp 600.000 (2010). Ini yang sederhana, mesin jahit untuk rumahan. Kalau untuk konfeksi mesin jahitnya lain lagi dan kecepatannya juga lebih cepat.  Saya gak berani pakai, he he he.


Mesin jahit tampak depan, simple ya :)
Saya sengaja beli yang model seperti ini. Penjualnya bilang, model pakai papan. Kalau mesin jahit yang pakai laci, seperti jaman nenek kita dulu, harganya lebih mahal. Kelebihan model ini buat saya juga karena praktis,  gampang dan ringan dipindah-pindah.

Waktu beli mesin jahit ini, papan dibongkar dan diikat di belakang motor Mio saya. Mesinnya ditaruh di depan. Begitu sampai rumah, baru saya rakit. Mudah dan praktis. Bisa dikerjakan sendiri malah. Tapi kalau beli mesin jahit yang pakai laci, waduh, refffoooddd, mesti naik bajaj atau bawa/sewa mobil.    


Kepala Mesin Jahit
Kepala mesin jahit merupakan organ paling vital dalam bekerja. Karena itu pastikan bahwa kepala mesin jahit ini baik-baik saja dan enak digunakan. Cobalah berkali-kali sampai puas dengan bunyi suara mesin. Kalau sudah sampai rumah dan ternyata bermasalah, males banget balik ke penjualnya.  

Beli mesin jahit bekas bagaimana? Boleh-boleh saja sih, asal kita tahu mesin. Kalau saya pribadi, lebih baik beli baru saja. Karena harga mesin jahit baru dan bekas rentang harganya tidak jauh. Lagipula kita kan tidak tahu apa 'penyakit' dari mesin jahit yang dijual itu.


Ingin punya bisnis sendiri? Ingin punya penghasilan tambahan? Yang satu ini bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana pun saja!

 

Belajar berbisnis bersama d’BC Network!
Jaringan indenpendent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!

Sunday, August 14, 2011

Membuat pola lengan

Prinsip membuat pola lengan sama saja dengan pola blus. Hanya perhatikan bagian lengkung lengan. Harus sama, karena nanti akan diletakkan di tempat yang sama.

Ambil kertas koran dengan bagian panjang yang cukup dengan pola lengan kita. Contoh blus saya adalah blus lengan panjang. Satukan pola blus depan di atas koran dan tahan dengan jarum pentul, lalu jiplak bagian lengkung lengan (ketiak) tersebut.


Pola blus di jepit dengan jarum pentul
Setelah pola dijiplak, lepaskan dan beri spidol warna apa saja agar terlihat beda. Kalau sudah kering, baru letakkan blus di atas lingkar lengan tersebut. Oh ya, buku-buku menjahit seringa mengatakan lingkar lengan atau ketiak sebagai kerung lengan. 

Blus diletakkan di atas kerung lengan.
  Letakkan blus di atas koran. Pastikan bahwa pola kerung lengan blus yang telah dijiplak, berada persisi di bawah kerung lengan. Lalu jiplak pola seperti biasa.  


Pola lengan yang sudah jadi


Pola dan lengan blus

Ingin punya bisnis sendiri? Ingin punya penghasilan tambahan? Yang satu ini bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana pun saja!

 

Belajar berbisnis bersama d’BC Network!
Jaringan indenpendent consultant oriflame yang sudah terbukti menghasilkan puluhan jutawan dari bisnis MLM secara offline dan online!